Jumat, 13 April 2012

Keistimewaan hari jum’at


Keistimewaan hari jum’at

Imam Azzindusti berkisah bahwa ia mendengar Abu Mansur berkata :
“Allah telah memberikan hari Sabtu kepada Nabi Musa beserta 50 Nabi dan Rasul yang sekelompok dengannya. Allah memberikan hari Ahad kepada Nabi Isa beserta 50 Nabi dan Rasul yang  sekelompok dengannya. Hari Senin diberikan kepada Nabi Muhammad beserta 63 Nabi dan Rasul yang sekelompok dengannya.
Jumlah Nabi seluruhnya 124.000. Yang 313 sebagai Rasul. Dan yang paling mulia adalah Nabi Muhammad. Karena itu Allah menambahkan 13 Nabi beserta Rasul menyertainya.
Hari Selasa untuk Nabi Sulaiman beserta 50 Nabi dan Rasul yang menyertainya. Hari Rabu untuk Nabi Ya’kub beserta 50 Nabi dan Rasul yang menyertainya. Maka tinggallah hari Jum’at.
“Wahai Tuhan, apa bagian umatku dari Engkau?” Rasulullah bertanya.
Allah berfirman : “Hai Muhammad. Hari Jum’at dan surga milikmu. Akan kuberikan Jum’at dan surga kepada umatmu. Kerelaan-Ku menyertai Jum’at dan surga adalah pemberian bagi mereka.”

SEMUA URUSAN ADALAH MILIK ALLAH


SEMUA URUSAN ADALAH MILIK ALLAH

Walid bin Mughirah, seorang pembesar Quraisy, pernah mengatakan :
“Apakah pantas Al-Qur’an diturunkan kepada Muhammad?, padahal aku adalah orang tertua dan pimpinan Quraisy. Demikian juga dengan Abu Mas’ud Amr bin Amir Ats-Tsaqafi, pimpinan kabilah Tsaqif, dan aku adalah orang tertinggi dari dua kabilah tersebut (Quraisy dan Tsaqif).
Maka turunlah ayat :
“Dan mereka berkata : ‘Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada seorang besar dari salah satu dua negeri (Makkah dan Thaif) ini’. Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan antara penghidupan-penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan kami telah meninggalkan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Q.S. 43 : 31-32).
Maksudnya, apakah orang-orang Quraisy itu berhak membagi hak kenabian dan menentukan sendiri sesuai dengan kehendak mereka? Semua urusan ini adalah milik Allah. Dialah yang akan menentukan kehidupan manusia, rejekinya, maupun kedudukannya. Sehingga mereka saling menghormat dan tukar menukar kepentingan. Jadi rejekinya dan kemuliaan hidup itu hanyalah Allah yang menentukan.

*****

SEORANG PENDOSA YANG LEBIH DEKAT DI SISI ALLAH


SEORANG PENDOSA YANG LEBIH DEKAT DI SISI ALLAH

Dari Mas’ud, bahwa Rasulullah bersabda :
“Seorang pendosa yang sangat mengharap rahmat Allah lebih dekat di sisi Allah daripada ahli ibadah yang putus asa akan rahmat Allah.”

Zaid bin Aslam mendengar kisah yang diceritakan Umar :
Pada masa lalu, hiduplah seorang hamba yang tekun ibadahnya. Namun sayang ia tak pernah mengharap rahmat Allah.
Ketika meninggal, hamba itu bertanya kepada Allah :
“Ya Tuhan, apa yang Engkau berikan kepadaku?”
“Neraka!”  jawab Tuhan.
“Neraka? Lalu kemana ibadah dan amal baikku semasa aku masih hidup dulu?” protesnya.
“Ketika di dunia kau selalu putus asa dengan rahmat-Ku, maka hari ini tak kuberikan rahmat-Ku.”

*****

TENTANG SURAT AL IKHLAS



TENTANG SURAT AL IKHLAS

Dari Ali bin Abi Thalib, bahwa Rasulullah bersabda :
“Barang siapa membaca Qulhuwallaahu Ahad sampai selesai, setelah shalat Shubuh sepuluh kali, maka ia tak akan terkena dosa dalam sehari tersebut, walaupun setan ngotot menggodanya.”
Surat itu adalah al-Ikhlas. Turun di Makkah, terdiri empat ayat, 15 kata, dan 47 huruf.
Dari Ubay bin Ka’ab, bahwa Rasulullah bersabda :
“Barang siapa membaca surat al-Ikhlas satu kali, maka ia diberi pahala seperti seratus syahid.”

Dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda :
“Barang siapa membaca Qulhuwallaahu Ahad satu kali sama dengan membaca sepertiga Al-Qur’an. Barang siapa membaca dua kali, sama dengan membaca dua pertiga Al-Qur’an. Barang siapa membaca tiga kali, maka sama dengan membaca Al-Qur’an seluruhnya. Barang siapa membaca sebelas kali, maka Allah membangunkan sebuah rumah untuknya yang dibuat dari yakut merah di surga kelak.”

*****

HUBUNGAN ORANG YANG MASIH HIDUP DAN YANG SUDAH MATI


HUBUNGAN ORANG YANG MASIH HIDUP DAN YANG SUDAH MATI

Dari Sofyan, dan orang yang mendengar dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah bersabda :
“Amalan orang yang masih hidup berpengaruh terhadap orang tuanya yang sudah meninggal. Jika yang masih hidup berbuat kebaikan, maka yang telah mati akan memuji Allah dan merasa gembira. Jika orang yang masih hidup berbuat kejelekan, maka orang tuanya yang telah meninggal berdo’a : Ya Allah, jangan Kau cabut nyawa dia sebelum Kau beri dia hidayah.
Di dalam kuburnya, orang yang telah mati merasa terganggu sebagaimana ia merasakannya ketika dirinya masih hidup.”
“Gangguan macam apa itu?” tanya sahabat.
“Seseorang yang telah mati tidak bisa melakukan suatu dosa, tidak bisa bertengkar, bermusuhan, dan tak bisa lagi menyakiti tetangganya. Hanya saja bila kamu bertengkar dengan seseorang, pasti orang tersebut akan mencacimu dan mencaci kedua orang tuamu. Saat itulah orang tuamu yang telah meninggal akan terganggu oleh perlakuan buruk itu. Sebaliknya, mereka yang telah mati merasa gembira ketika mendapatkan kebaikan yang menjadi hak mereka,” sabda Rasulullah.

*****

AMALAN DICATAT HANYA PADA SAAT SEHAT


AMALAN DICATAT HANYA PADA SAAT SEHAT

Dari Abi Umamah al-Bahili, bahwa Rasulullah bersabda :
“Jika seorang mukmin sakit, Allah Ta’ala menyuruh malaikat mencatat amal baiknya disaat sehat dan bugar.”
Dalam hadits lain dikisahkan :
Bila seorang yang beriman laki-laki atau perempuan sedang sakit, maka Allah mengutus empat malaikat sebelum orang itu sakit.
Malaikat pertama diperintahkan mengambil kekuatannya. Atas ijin Allah, malaikat mengambilnya, maka orang itu menjadi lemah.
Malaikat kedua diperintahkan mengambil selera makannya, dan Malaikat ketiga diperintahkan mengambil kecerahan wajahnya hingga pucat. Malaikat keempat diperintahkan mengambil seluruh dosanya, sehingga ia bebas dari dosa-dosanya.
Apabila Allah hendak menyehatkan kembali orang itu, maka Allah memerintahkan malaikat yang mengambil kekuatannya agar mengembalikan. Mengutus Malaikat yang mengambil selera makannya agar memulihkannya. Malaikat yang mengambil kecerahan wajahnya agar mengembalikannya. Tetapi tidak menyuruh malaikat yang mengambil dosanya agar mengembalikannya lagi.
Malaikat itu kemudian menjjumpai Allah dengan bersujud.
“Wahai Tuhan, kami berempat adalah malaikat yang patuh pada perintah-Mu. Mereka bertiga Engkau perintahkan menyerahkan kembali apa yang telah mereka ambil. Mengapa aku tidak Engkau perintah mengembalikan dosa-dosa yang telah aku ambil?”
Allah berfirman :
“Kemuliaan yang Aku miliki tak pantas membuat-Ku menyuruhmu mengembalikan dosanya setelah Aku buat kepayahan karena sakit.”
“Lalu apa yang harus aku lakukan?” tanya malaikat.
Allah berfirman. “Pergilah dan buang dosa itu ke laut.”
Malaikat itu pun pergi dan membuang dosa itu ke laut.
Kemudian Allah menciptakan buaya laut karena dosa-dosa yang dibuang itu.
Andaikata ia menuju akhirat, ia mati dalam keadaan suci dari dosa. Sebagaimana sabda Rasulullah :
“Sakit panas sehari semalam adalah pelebur dosa setahun.”

*****